Rabu, 26 November 2014

Perbedaan Geodesi, Geologi, Geografi, dan Geofisika

Perbedaan Geodesi, Geologi, Geografi, dan Geofisika

Share on :


Tulisan ini berawal dari “kekesalan” saya ketika ditanya “kuliah di jurusan apa?”. Setiap kali dijawab “Teknik Geodesi”, ada dua kemungkinan ekspresi dari orang yang bertanya tersebut. Pertama adalah dahi berkerut tanda dia baru pertama kalinya mendengar jurusan itu. Kedua, ia kembali bertanya “oh, berarti yang belajar batu-batuan gitu ya?”.
Kemirisan saya bertambah ketika membaca sebuah komentar dari artikel di Yahoo mengenai orang yang tersesat dan hampir kehilangan nyawanya di alam liar Australia karena mengikuti iOS Map yang memang terkenal sangat tidak akurat. Komentar tersebut kurang lebih berbunyi “seharusnya ke depannya iOS Map dibuat dengan melibatkan ahli GEOLOGI agar lebih akurat”. Maaf, disini kita tidak berbicara mengenai pemisahan sains, tapi ketika Geodesi yang penekanan utamanya justru di masalah akurasi peta justru tidak disebutkan ketika orang awam berbicara mengenai ketidakakuratan peta digital, menurut saya itu masalah untuk seorang Geodet (orang Geodesi).
Oke, kali ini saya akan coba meluruskan selurus-lurusnya, apakah Teknik Geodesi itu serta perbedaannya dengan ilmu kebumian lainnya. Secara umum ada empat ilmu yang akan saya jabarkan, yaitu Geodesi, Geologi, Geografi, dan Geofisika. Alasannya sudah jelas, keempat ilmu tersebut mempelajari objek yang sama: bumi.
Dimulai dari Geodesi, ilmu yang saya tekuni selama empat tahun terakhir. Ketika berbicara Geodesi, ada satu kata yang seharusnya langsung terbayang di kepala, yaitu peta. Ya, Teknik Geodesi (Geodetic Engineering) adalah ilmu yang mempelajari bagaimana membuat peta, memodelkannya dengan sistem proyeksi yang tepat, sehingga menghasilkan peta yang akurat baik dari segi lokasi / koordinatnya (geometrik) maupun tampilan visualnya (radiometrik) –jika peta tersebut dalam bentuk citra / foto satelit. Pemetaan atau pemodelan bumi itu tidak hanya di darat, namun juga dasar lautan atau disebut pemetaan batimetri. Hasilnya berupa peta topografi dasar laut yang dapat digunakan untuk berbagai keperluan. Pemetaan dapat dilakukan dengan pengukuran langsung di atas bumi menggunakan alat-alat surveying, menggunakan satelit, atau pemotretan udara menggunakan helikopter. Seluruh bumi menjadi “ranah” studi Geodesi, asalkan masih terdapat di atas permukaan bumi. Inilah yang membedakannya dengan Geologi, yang “ranah” studinya berada di bawah permukaan bumi.
Geologi adalah ilmu yang mempelajari isi dalam bumi, seperti lempeng, batuan, atau morfologi bumi. Hasilnya sudah jelas, berupa studi mengenai dinamika bumi seperti pergerakan lempeng, struktur batuan, sampai fenomena-fenomena alam yang kini banyak terjadi seperti gunung meletus, tsunami, dll. Geologi juga belajar mengenai perubahan bumi dari waktu ke waktu yang diakibatkan oleh bumi yang selalu dinamis, yang diakibatkan oleh pergerakan berbagai macam lempeng yang ada di dunia. So, jelas sudah, Geodesi adalah ilmu tentang pemetaan bumi, dan Geologi adalah ilmu tentang struktur dalam bumi. Atau dengan kata lain Geodesi mempelajari permukaan bumi, dan Geologi mempelajari “perut” bumi.
Geografi lain lagi. Geografi bisa dikatakan lebih luas karena ilmu ini tidak hanya berbicara mengenai sains bumi itu sendiri, tapi juga aspek sosialnya berupa kehidupan makhuluk hidup yang tinggal di atasnya. Geografi juga bersifat pemetaan dan juga mempelajari sedikit mengenai struktur bumi, namun tidak terlalu mendalam seperti kedua ilmu yang dijabarkan lebih awal. Jadi sebenarnya Geografi seperti gabungan dari cabang ilmu sains dan ilmu sosial. Itulah sebabnya ada sedikit “kontroversi”, Geografi yang di SMA kebanyakan dimasukkan ke jurusan IPS, namun ketika di jenjang kuliah justru masuk ke cabang ilmu pasti.
Terakhir adalah Geofisika. Sejujurnya saya agak sulit berbicara mengenai ilmu yang satu ini. Jika Geodesi adalah bidang yang saya tekuni, Geologi pernah saya pelajari di dua semester awal dalam mata kuliah Geologi Dasar dan Geomorfologi, Geografi saya dapatkan waktu SMA, untuk Geofisika saya tidak pernah bersentuhan dengannya sama sekali. Namun dalam Wikipedia, Geofisika adalah ilmu yang mempelajari bumi dengan prinsip dan kaidah-kaidah fisika. “Ranah” studinya termasuk meteorologi, elektrisitas atmosferis, dan fisika ionosfer. Sehingga dengan kata lain, Geofisika mempelajari atmosfer, yang bisa kita simpulkan “wilayahnya” berbeda lagi dengan Geodesi atau Geografi dan Geologi. Geologi permukaan bumi ke bawah, Geodesi dan Geografi di permukaan bumi, sedangkan Geofisika di atas permukaan bumi.
So, keempat ilmu tersebut memang mempelajari bumi (geo). Namun dari persamaan objek studi bidang-bidang keilmuan itu, sudah pasti ada spesifikasi yang menjadi fokus dari masing-masing ilmu. 

Sumber gambar : http://www.macosxtips.co.uk
sumber : http://danangsusetyo.blogspot.com/2012/12/perbedaan-geodesi-geologi-geografi-dan.html

Apa Itu Teknik Geomatika?

Apa Itu Teknik Geomatika?

(www.esri.com)
Teknik Geomatika adalah bidang ilmu modern yang mengintegrasikan pengumpulan, pemodelan, analisis dan manajemen data spasial (berbasis lokasi). Data spatial didapat melalui pengukuran terestris, laut, wahana angkasa dan sensor-sensor satelit dengan beracuan pada kerangka dasar Geodesi. Termasuk juga proses transformasi data spasial dari berbagai sumber pengukuran ke dalam suatu sistem informasi dengan karakteristik ketelitian yang terdefinisi dengan baik.
1
Definisi diatas bersumber kepada University of Calgary yg menjelaskan sbb :
“Geomatics Engineering is a modern discipline, which integrates acquisition, modeling, analysis, and management of spatially referenced data, i.e. data identified according to their locations. Based on the scientific framework of geodesy, it uses terrestrial, marine, airborne, and satellite-based sensors to acquire spatial and other data. It includes the process of transforming spatially referenced data from different sources into common information systems with well-defined accuracy characteristics”.
1
Istilah ini tampaknya diciptakan oleh B. Dubuisson pada tahun 1969 dari kombinasi istilah geodesi dan  geoinformatik. Ini termasuk alat-alat dan teknik yang digunakan dalam survei tanah, penginderaan jauh, kartografi, Sistem Informasi Geografis (GIS),  Global Navigation Satellite Systems (GPS,  GLONASS,  GALILEO) fotogrametri, dan bentuk bentuk terkait pemetaan bumi. Awalnya digunakan di Kanada,  karena  mirip dalam bahasa Perancis dan bahasa Inggris,  istilah geomatika telah diadopsi oleh  Organisasi Internasional untuk Standardisasi, Royal Institution of Chartered  Surveyor,  dan banyak  otoritas  internasional lainnya, meskipun beberapa(terutama di Amerika  Serikat)  telah  menunjukkan  preferensi untuk teknologi geospasial  (Wikipedia).
1
Kemajuan pesat, dan visibilitas meningkat, dari geomatika sejak 1990-an telah dimungkinkan oleh  kemajuan teknologi  komputer, ilmu komputer, dan rekayasa perangkat lunak, serta pengamatan udara  dan  ruang teknologi penginderaan jauh.
1
Bidang geomatika antara lain mencakup bidang :
· laser scanning udara dan darat
· digital terrain model
· geodesi
· sistem informasi geografis
· data geospasial
· Global Positioning System
· hidrografi
· matematika geodesi
· navigasi
· jaringan kontrol
· fotogrametri
· posisi/lokasi
· penginderaan jauh
· pengukuran tanah
· nirkabel lokasi

sumber : http://www.geomatika.its.ac.id/lang/id/beranda/apa-itu-geomatika

Sabtu, 19 Oktober 2013

KOMPOSISI KIMIA BATUBARA



KOMPOSISI KIMIA BATUBARA

Batubara adalah salah satu bahan bakar fosil, pengertian umumnya adalah batuan sedimen yang dapat terbakar, terbentuk dari endapan organik, utamanya adalah sisa-sisa tumbuhan dan terbentuk melalui proses pembatubaraan. Unsur-unsur utamanya terdiri dari karbon, hidrogen, dan oksigen. Batubara adalah batuan organik yang memiliki sifat-sifat fisika dan kimia yang kompleks yang dapat ditemui dalam berbagai bentuk.

          Secara kimia batubara tersusun atas tiga komponen utama, yaitu :
1   .    Air yang terikat secara fisika dan dapat dihilangkan pada suhu sampai 150°C disebut Moisture.
2   .    Senyawa batubara atau coal subtance atau coal matter.
3   .    Zat mineral atau Minera Matter.
            Pada dasarnya terdapat dua jenis material yang membentuk batubara, yaitu :
1.    Combustible Material, yaitu bahan atau material yang dapat dibakar/dioksidasi oleh oksigen. Material tersebut umumnya terdiri dari :
• karbon padat (fixed carbon)
• senyawa hidrokarbon
• senyawa sulfur
• senyawa nitrogen, dan beberapa senyawa lainnya dalam jumlah kecil.
2.    Non Combustible Material, yaitu bahan atau material yang tidak dapat dibakar/dioksidasi oleh oksigen. Material tersebut umumnya terdiri dari senyawa anorganik (Si02, A1203, Fe203, Ti02, Mn304, CaO, MgO, Na20, K20, dan senyawa logam lainnya dalam jumlah yang kecil) yang akan membentuk abu/ash dalam batubara. Kandungan non combustible material ini umumnya diingini karena akan mengurangi nilai bakarnya. Pada proses pembentukan batubara/coalification, dengan bantuan faktor ti:ika dan kimia alam, selulosa yang berasal dari tanaman akan mengalami pcruhahan menjadi lignit, subbituminus, bituminus, atau antrasit.

Hampir seluruh pembentuk batu bara berasal dari tumbuhan. Jenis-jenis tumbuhan pembentuk batu bara dan umurnya menurut Diessel (1981) adalah sebagai berikut :
  • Alga, dari Zaman Pre-kambrium hingga Ordovisium dan bersel tunggal. Sangat sedikit endapan batu bara dari perioda ini.
  • Silofita, dari Zaman Silur hingga Devon Tengah, merupakan turunan dari alga. Sedikit endapan batu bara dari perioda ini.
  • Pteridofita, umur Devon Atas hingga Karbon Atas. Materi utama pembentuk batu bara berumur Karbon di Eropa dan Amerika utara. Tetumbuhan tanpa bunga dan biji, berkembang biak dengan spora dan tumbuh di iklim hangat.
  • Gimnospermae, kurun waktu mulai dari Zaman Permian hingga Kapur Tengah. Tumbuhan heteroseksual, biji terbungkus dalam buah, semisal pinus, mengandung kadar getah (resin) tinggi. Jenis Pteridospermae seperti gangamopteris dan glossopteris adalah penyusun utama batu bara Permian seperti di Australia, India dan Afrika.
  • Angiospermae, dari Zaman Kapur Atas hingga kini. Jenis tumbuhan modern, buah yang menutupi biji, jantan dan betina dalam satu bunga, kurang bergetah dibanding gimnospermae sehingga, secara umum, kurang dapat terawetkan.

Lingkungan Pengendapan Batubara

Interpretasi Lingkungan Pengendapan dari Litotipe dan Viikrolitotipe
Tosch (1960) dalam Bustin dkk. (1983), Teichmuller and Teichmuller (1968) dalam Murchissen (1968) berpendapat bahwa litotipe dan mikrolitotipe batubara berhubungan erat dengan lingkungan pengendapannya. Lingkungan pengendapan dari masing-masing litotipe adalah sebagi berikut :

1.   Vitrain dan Clarain, diendapkan di daerah pasang surut dimana terjadi perubahan muka air laut.
2. Fusain, diendapkan pada lingkungan dengan kecepatan pengendapan rendah, yaitu lingkungan air dangkal yang dekat dengan daratan.
3.  Durain, diendapkan dalam lingkungan yang lebih dalam lagi, diperkirakan lingkungan laut dangkal.

Sedangkan interpretasi lingkungan pengendapan berdasarkan mikrolitotipe adalah sebagai berikut :

1.   Vitrit, berasal dari kayu-kayuan seperti batang, dahan, akar, yang menunjukkan lingkungan rawa berhutan.
2.   Clarit, berasal dari tumbuhan yang mengandung serat kayu dan diperkirakan terbentuk pada lingkungan rawa.
3.   Durit, kaya akan jejak jejak akar dan spora, hal ini diperkirakan terbentuk pada lingkungan laut dangkal.
4.   Trimaserit, yang kaya akan vitrinit terbentuk di lingkungan rawa, sedangkan yang kaya akan liptinit terbentuk di lingkungan laut dangkal clan yang kaya akan inertinit terbentuk dekat daratan.







                http://ilmubatubara.wordpress.com/

Kamis, 19 September 2013

PENENTUAN RUMUS DARI DATA PERCOBAAN

STOIKIOMETRI

Penentuan Rumus dari Data Percobaan


 
  • Pengantar :
 

Setiap reaksi kimia melibatkan atom dan molekul  dalam jumlah yang besar. Misalnya akan membuat senyawa karbon dioksida, CO2. Dapat dilakukan dengan cara mereaksikan satu atom karbon dengan dua atom oksigen untuk mendapatkan satu molekul karbon dioksida. Berapapun jumlah zat yang akan direaksikan yang terpenting adalah perbandingan jumlah atom karbon dan oksigen haruslah 1 : 2. Jadi kita perlu memiliki metode perhitungan yang tepat agar jumlah  yang kita timbang mengandung atom dalam jumlah yang sesuai dengan perbandingan di atas.

  • Penentuan Rumus Kimia :

Konsep mol digunakan untuk menentukan rumus kimia suatu senyawa, baik rumus empiris (perbandingan terkecil atom dalam senyawa) maupun rumus molekul (jumlah atom dalam senyawa). 

Rumus empiris dihitung gram atau persen masing-masing penyusun senyawa dan angka tersebut dibagi dengan Ar masing-masing diperoleh perbandingan mol terkecil dari unsur penyusun senyawa.

Rumus molekul dan rumus empiris suatu senyawa ada kalanya sama, tetapi kebanyakan tidak sama.

Rumus molekul merupakan kelipatan dari rumus empiris.

Jika senyawa mempunyai rumus empiris CH2O maka rumus molekul mungkin C2H4O2 dll.

Menentukan rumus molekul senyawa ada dua hal yang harus terlebih dahulu diketahui yaitu rumus empiris senyawa dan Mr atau BM senyawa.

 

Contoh :

Suatu senyawa hidrokarbon yang terdiri dari 20% hidrogen dan 80% karbon memiliki massa rumus (Mr)  = 60.

  

Tentukan rumus empirisnya dan rumus molekulnya! (Ar H  = 1, Ar C =16).

 

Penyelesaian :

 

Rumus empiris senyawa hidrokarbon    = CH3

Rumus molekul senyawa                      = (CH3)n

Massa rumus (Mr)

(CH3)n               = 60

60                      = {12 + 13(1)}n

60                      = 15 n

n                        = 60/15 = 4

Jadi rumus molekul senyawa hidrokarbon :

(CH3)4  = C4H12

Kategori